XtGem Forum catalog
TAKUT MENGAMBIL HAK
ORANG LAIN
Assalamualaikum...
♥ BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM ♥
Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu
dua manusia super. Mereka makhluk-
makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh
keringat. Tepatnya di atas jembatan
penyeberangan Setia Budi, dua sosok
kecil berumur kira-kira delapan tahun
menjajakan tissue dengan wadah
kantong plastik hitam. Saat
menyeberang untuk makan siang
mereka menawari saya tissue di ujung
jembatan, dengan keangkuhan khas
penduduk Jakarta saya hanya
mengangkat tangan lebar-lebar tanpa
tersenyum yang dibalas dengan
sopannya oleh mereka dengan ucapan,
“Terima kasih Oom!” Saya masih tak
menyadari kemuliaan mereka dan cuma
mulai membuka sedikit senyum seraya
mengangguk ke arah mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur
lain di atas jembatan, menyapa seorang
laki laki lain dengan tetap berpolah
seorang anak kecil yang penuh
keceriaan, laki-laki itu pun menolak
dengan gaya yang sama dengan saya,
lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar
ucapan terima kasih dari mulut kecil
mereka. Kantong hitam tempat stok
tissue dagangan mereka tetap teronggok
di sudut jembatan tertabrak derai angin
Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan
kearah dalam kantong itu, dua pertiga
terisi tissue putih berbalut plastik
transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati
tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli
seorang wanita, senyum di wajah
mereka terlihat berkembang seolah
memecah mendung yang sedang
menggayuti langit Jakarta.
“Terima kasih ya mbak … semuanya
dua ribu lima ratus rupiah!” tukas
mereka, tak lama si wanita merogoh
tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada
uang pas nggak mbak?” mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si
wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil
menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak
empat meter.
“Oom boleh tukar uang nggak, receh
sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan
kepada anak lelaki saya yang seusia
mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh
saku celana dan hanya menemukan
uang sisa kembalian food court sebesar
empat ribu rupiah. “Nggak punya!” ,
tukas saya. Lalu tak lama si wanita
berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!”
sambil berbalik badan dan meneruskan
langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang
empat ribuan saya dan menukarnya
dengan uang sepuluh ribuan tersebut
dan meletakkannya kegenggaman saya
yang masih tetap berhenti, lalu ia
mengejar wanita tersebut untuk
memberikan uang empat ribu rupiah
tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak
ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak
apa..apa ambil saja!”, namun mereka
berkeras mengembalikan uang tersebut.
“Maaf mbak, cuma ada empat ribu,
nanti kalau lewat sini lagi saya
kembalikan !”
Akhirnya uang itu diterima si wanita
karena si kecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka.
Uang sepuluh ribu digenggaman saya
tentu bukan sepenuhnya milik saya.
Mereka menghampiri saya dan berujar
“Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah
dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”
“Eeh … nggak usah … nggak usah … biar
aja … nih!” saya kasih uang itu ke si
kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari
ke bawah jembatan menuruni tangga
yang cukup curam menuju ke kumpulan
tukang ojek. Saya hendak meneruskan
langkah tapi dihentikan oleh anak yang
satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar
dulu … sebentar.”
“Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut
saya. “Jangan … jangan oom, itu uang
oom sama mbak yang tadi juga” anak
itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas,
mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya
berusaha membargain, namun ia
menghalangi saya sejenak dan berlari ke
ujung jembatan berteriak memanggil
temannya untuk segera cepat.
Secepat kilat juga ia meraih kantong
plastik hitamnya dan berlari ke arah
saya. “Ini deh om, kalau kelamaan,
maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack
tissue. “Buat apa?”, saya terbengong
“Habis teman saya lama sih oom, maaf,
tukar pakai tissue aja dulu”. Walau
dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah
muncul pada rona mukanya. Saya kalah
set, ia tetap kukuh menutup rapat tas
plastik hitam tissuenya. Beberapa saat
saya mematung di sana, sampai si kecil
telah kembali dengan genggaman uang
receh sepuluh ribu, dan mengambil
tissue dari tangan saya serta
memberikan uang empat ribu rupiah.
“Terima kasih Om!”..mereka kembali ke
ujung jembatan sambil sayup sayup
terdengar percakapan, “Duit mbak tadi
gimana ..?” suara kecil yang lain
menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali
aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.
Percakapan itu sayup sayup menghilang,
saya terhenyak dan kembali ke kantor
dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini
saya belajar dari dua manusia super,
kekuatan kepribadian mereka
menaklukan Jakarta membuat saya
trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi
hati dan kemuliaannya sehalus sutra,
mereka tahu hak mereka dan hak orang
lain, mereka berusaha tak meminta
minta dengan berdagang tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum balig,
memiliki kemuliaan di umur mereka
yang begitu belia. Kejujuran adalah mata
uang yang berlaku dimana-mana. Apa
yang bukan milik kita, pantang untuk kita
ambil.
Subhanallah ....
Wassalam