Polaroid
376945 177614635663857 100002459641885 366954 79701736 n
KH Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif
bin Kiyai Hamim bin Kiyai
Abdul Karim bin Kiyai
Muharram bin Kiyai Asrar
Karamah bin Kiyai
Abdullah bin Sayid Sulaiman. Sayid Sulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah
atau Sunan Gunung Jati
Cirebon. Syarif
Hidayatullah itu putera
Sultan Umdatuddin
Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam
(Campa). Ayahnya adalah
Sayid Ali Nurul Alam bin
Sayid Jamaluddin al-Kubra. KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11
Jamadilakhir 1235
Hijrahatau 27 Januari 1820
Masihi di Kampung
Senenan, Desa Kemayoran,
Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan,
Pulau Madura, Jawa Timur.
Beliau berasal dari keluarga
Ulama dan digembleng
langasung oleh ayah Beliau.
Setelah menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai
pondok pesantren. Sekitar
1850-an, ketika usianya
menjelang tiga puluh, Kiyai
Muhammad Khalil belajar
kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren
Langitan, Tuban, Jawa
Timur. Dari Langitan beliau
pindah ke Pondok-pesantren
Cangaan, Bangil, Pasuruan.
Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren
Keboncandi. Selama belajar
di pondok-pesantren ini
beliau belajar pula kepada
Kiyai Nur Hasan yang
menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi.
Kiyai Nur Hasan ini,
sesungguhnya, masih
mempunyai pertalian
keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH
Muhammad Kholil telah
menghafal beberapa matan,
seperti Matan Alfiyah Ibnu
Malik (Tata Bahasa Arab).
disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-
Quran . Beliau mampu
membaca alqur’an dalam
Qira’at Sab’ah (tujuh cara
membaca al-Quran). Pada 1276 Hijrah/1859
Masihi, KH Muhammad
Khalil Belajar di Mekah. Di
Mekah KH Muhammad
Khalil al-Maduri belajar
dengan Syeikh Nawawi al- Bantani(Guru Ulama
Indonesia dari Banten). Di
antara gurunya di Mekah
ialah Syeikh Utsman bin
Hasan ad-Dimyathi, Saiyid
Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin
Muhammad al-Afifi al-
Makki, Syeikh Abdul
Hamid bin Mahmud asy-
Syarwani. Beberapa sanad
hadis yang musalsal diterima dari Syeikh
Nawawi al-Bantani dan
Abdul Ghani bin Subuh bin
Ismail al-Bimawi (Bima,
Sumbawa). KH.Muhammad
Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan
KH.Hasym
Asy’ari,KH.Wahab
Hasbullah dan
KH.Muhammad Dahlan
namum Ulama-ulama Dahulu punya kebiasaan
Memanggil Guru sesama
Rekannya, dan
KH.Muhammad KHolil
yang dituakan dan
dimuliakan di antara mereka. Sewaktu berada di Mekah
untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari,
KH.Muhammad Khalil
bekerja mengambil upah
sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para
pelajar. Diriwayatkan
bahwa pada waktu itulah
timbul ilham antara mereka
bertiga, yaitu: Syeikh
Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Khalil al-
Maduri dan Syeikh Saleh
as-Samarani (Semarang)
menyusun kaidah penulisan
huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan
Arab yang digunakan
untuk tulisan dalam
bahasa Jawa, Madura
dan Sunda. Huruf
Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi
yang digunakan untuk
penulisan bahasa
Melayu.
Kiyai Muhammad
Khalil cukup lama belajar di beberapa
pondok-pesantren di
Jawa dan Mekah, maka
sewaktu pulang dari
Mekah, beliau terkenal
sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat
ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan
pengetahuan keislaman yang
telah diperolehnya, Kiyai
Muhammad Khalil
selanjutnya mendirikan
pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1
kilometer arah Barat Laut
dari desa kelahirannya. KH.
Muhammad Khalil al-
Maduri adalah seorang
ulama yang bertanggungjawab terhadap
pertahanan, kekukuhan dan
maju-mundurnya agama
Islam dan bangsanya. Beliau
sadar benar bahwa pada
zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh
bangsa asing yang tidak
seagama dengan yang
dianutnya. Beliau dan keseluruhan
suku bangsa Madura seratus
persen memeluk agama
Islam, sedangkan bangsa
Belanda, bangsa yang
menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai
dengan keadaan beliau
sewaktu pulang dari Mekah
telah berumur lanjut,
tentunya Kiyai Muhammad
Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang,
memberontak dengan
senjata tetapi mengkaderkan
pemuda di pondok
pesantren yang
diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri
pernah ditahan oleh
penjajah Belanda kerana
dituduh melindungi
beberapa orang yang
terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya.
beberapa tokoh ulama
maupun tokoh-tokoh
kebangsaan lainnya yang
terlibat memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah
mendapat pendidikan dari
Kiyai Muhammad Khalil al-
Maduri. KH.Ghozi menambahkan,
dalam peristiwa 10
November, Mbah Kholil,
sapan KH Kholill bersama
kiai-kiai besar seperti Bisri
Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan
Mbah Abas Buntet Cirebon,
mengerahkan semua
kekuatan gaibnya untuk
melawan tentara Sekutu.
Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua
untuk menghadapi lawan
yang bersenjatakan lengkap
dan modern. Sebutir kerikil
atau jagung pun, di tangan
kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom
berdaya ledak besar. Tak ketinggalan, Mbah
Kholil mengacau
konsentrasi tentara Sekutu
dengan mengerahkan
pasukan lebah gaib
piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang,
konsentrasi lawan buyar.
Saat konsentrasi lawan
buyar itulah, pejuang kita
gantian menghantam lawan.
Hasilnya” terbukti, dengan peralatan sederhana, kita
bisa mengusir tentara lawan
yang senjatanya super
modern. Tapi sayang, peran
ulama yang mengerahkan
kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,”
papar Kiai Ghozi, cucu KH
Wahab Chasbullah ini. Kesaktian lain dari Mbah
Kholil, adalah
kemampuannya membelah
diri. Dia bisa berada di
beberapa tempat dalam
waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh
saat beliau mengajar di
pesantren. Saat berceramah,
Mbah Kholil melakukan
sesuatu yang tak terpantau
mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,”
cerita kh Ghozi.
Para santri heran.
Sedangkan beliau sendiri
cuek, tak mau menceritakan
apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab
setengah bulan kemudian.
Ada seorang nelayan sowan
Mbah Kholil. Dia
mengucapkan terimakasih,
karena saat perahunya pecah di tengah laut,
langsung ditolong Mbah
Kholil.
Kedatangan” nelayan itu
membuka tabir. Ternyata
saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan
agar segera ke pantai untuk
menyelamatkan nelayan
yang perahunya pecah.
Dengan karomah yang
dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan
membantu si nelayan itu,”
papar kh Ghozi yang kini
tinggal di Wedomartani
Ngemplak Sleman ini. di antara sekian banyak
murid Kh Muhammad
Khalil al-Maduri yang
cukup menonjol dalam
sejarah perkembangan
agama Islam dan bangsa Indonesia ialah Kh Hasyim
Asy’ari (pendiri Pondok-
pesantren Tebuireng,
Jombang, dan pengasas
Nahdhatul Ulama / NU)
Kiyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-
pesantren Tambakberas,
Jombang); Kiyai Haji Bisri
Syansuri (pendiri Pondok-
pesantren Denanyar); Kiyai
Haji Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem,
Rembang, adalah ayahanda
Kiyai Haji Ali Ma’shum),
Kiyai Haji Bisri Mustofa
(pendiri Pondok-pesantren
Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin
(pengasuh Pondok-
pesantren Asembagus,
Situbondo). Karomah syehk Kholil
Bangkalan Istilah karomah berasal dari
bahasa Arab. Secara bahasa
berarti mulia, Syaikh
Thohir bin Sholeh Al-
Jazairi mengartikan kata
karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada
seorang wali yang tidak
disertai dengan pengakuan
seorang Nabi. [Thohir bin
Sholeh Al-Jazairi,
Jawahirul Kalamiyah, terjemahan Jakfar Amir,
Penerbit Raja Murah
Pekalongan, hal. 40]. Sementara ini ada dua kisah
yang bisa saya cuplikkan
yaitu:
1. KISAH PENCURI
TIMUN TIDAK BISA
DUDUK Diantara karomah KH.
Kholil adalah pada suatu
hari petani timun di daerah
Bangkalan sering mengeluh.
Setiap timun yang siap
dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu
peristiwa itu terus menerus.
Akhirnya petani timun itu
tidak sabar lagi, setelah
bermusuyawarah, maka
diputuskan untuk sowan ke Kiai Kholil. Sesampainya di
rumah Kiai Kholil,
sebagaimana biasanya Kiai
sedang mengajarkan kitab
nahwu Kitab tersebut
bernama Jurumiyah, suatu kitab tata bahasa Arab
tingkat pemula.
Assalamu“’alaikum, Kiai,”
ucap salam para petani
serentak.
Wa“’alaikum salam wr.wb., “ Jawab Kiai Kholil.
Melihat banyaknya petani
yang datang. Kiai bertanya :
Sampean“ ada keperluan, ya?”
Benar“, Kiai. Akhir-akhir ini
ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon
kepada Kiai penangkalnya.”
Kata petani dengan nada
memohon penuh harap.
Ketika itu, kitab yang dikaji
oleh Kiai kebetulan sampai pada kalimat “qoma zaidun”
yang artinya “zaid telah
berdiri”. Lalu serta merta
Kiai Kholil berbicara
sambil menunjuk kepada
huruf “qoma zaidun”. Ya“.., Karena pengajian ini
sampai ‘qoma zaidun’, ya
qoma‘ zaidun’ ini saja pakai
penangkal.” Seru Kiai
dengan tegas dan mantap.
Sudah“, pak Kiai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan
tanda Tanya.
Ya“ sudah.” Jawab Kiai Kholil
menandaskan. Mereka puas
mendapatkan penangkal
dari Kiai Kholil. Para petani pulang ke rumah
mereka masing-masing
dengan keyakinan
kemujaraban penangkal
dari Kiai Kholil.
Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang
timun pergi ke sawah
masing-masing. Betapa
terkejutnya mereka melihat
pemandangan di
hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus
menerus tidak bisa duduk.
Maka tak ayal lagi, semua
maling timun yang selama
ini merajalela diketahui dan
dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan
ingin melihat maling yang
tidak bisa duduk itu, semua
upaya telah dilakukan,
namun hasilnya sis-sia.
Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi
karena ditonton orang yang
semakin lama semakin
banyak.
Satu-satunya jalan agar para
maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani
untuk sowan ke Kiai Kholil
lagi. Tiba di kediaman Kiai
Kholil, utusan itu diberi
obat penangkal. Begitu obat
disentuhkan ke badan maling yang sial itu,
akhirnya dapat duduk
seperti sedia kala. Dan para
pencuri itupun menyesal
dan berjanji tidak akan
mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran
empuk pencurian. Maka
sejak saat itu, petani timun
di daerah Bangkalan
menjadi aman dan makmur.
Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai kholil, mereka
menyerahkan hasil
panenannya yaitu timun ke
pondok pesantren berdokar-
dokar. Sejak itu, berhari-
hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan
hampir-hampir di seluruh
pojok-pojok pondok
pesantren dipenuhi dengan
timun. 2. KISAH KETINGGALAN
KAPAL LAUT
Kejadian ini pada musim
haji. Kapal laut pada waktu
itu, satu-satunya angkutan
menuju Makkah, semua penumpang calon haji naik
ke kapal dan bersiap-siap,
tiba-tiba seorang wanita
berbicara kepada
suaminya :
Pak“, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,”
ucap istrinya dengan
memelas.
Baik“, kalau begitu.
Mumpung kapal belum
berangkat, saya akan turun mencari anggur,” jawab
suaminya sambil bergegas di
luar kapal.
Setelah suaminya mencari
anggur di sekitar ajungan
kapal, nampaknya tidak ditemui penjual anggur
seorangpun. Akhirnya
dicobanya masuk ke pasar
untuk memenuhi keinginan
istrinya tercinta. Dan meski
agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga.
Betapa gembiranya sang
suami mendapatkan buah
anggur itu. Dengan agak
bergegas, dia segera kembali
ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa
terkejutnya setelah sampai
ke ajungan kapal yang akan
ditumpangi semakin lama
semakin menjauh. Sedih
sekali melihat kenyataan ini. Duduk termenung tidak
tahu apa yang mesti
diperbuat.
Disaat duduk memikirkan
nasibnya, tiba-tiba ada
seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia
memberikan nasihat:
Datanglah“ kamu kepada
Kiai Kholil Bangkalan,
utarakan apa musibah yang
menimpa dirimu !” ucapnya dengan tenang.
Kiai“ Kholil?” pikirnya.
Siapa“ dia, kenapa harus
kesana, bisakah dia
menolong ketinggalan saya
dari kapal?” begitu pertanyaan itu berputar-
putar di benaknya.
Segeralah“ ke Kiai kholil
minta tolong padanya agar
membantu kesulitan yang
kamu alami, insya Allah.” Lanjut orang itu menutup
pembiocaraan.
Tanpa pikir panjang lagi,
berangkatlah sang suami
yang malang itu ke
Bangkalan. Setibanya di kediaman Kiai Kholil,
langsung disambut dan
ditanya :
Ada“ keperluan apa?”
Lalu suami yang malang itu
menceritakan apa yang dialaminya mulai awal
hingga datang ke Kiai
Kholil.
Tiba-tiba Kiai berkata :
Lho“, ini bukan urusan saya,
ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!”
Lalu suami itu kembai
dengan tangan hampa.
Sesampainya di pelabuhan
sang suami bertemu lagi
dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Kiai
Kholil lalu bertanya:
Bagaimana”? Sudah bertemu
Kiai Kholil ?”
Sudah“, tapi saya disuruh ke
petugas pelabuhan” katanya dengan nada putus asa.
Kembali“ lagi, temui Kiai
Kholil !” ucap orang yang
menasehati dengan tegas
tanpa ragu. Maka sang
suami yang malang itupun kembali lagi ke Kiai Kholil.
Begitu dilakukannya sampai
berulang kali. Baru setelah
ke tiga kalinya, Kiai Kholil
berucap, “Baik kalau begitu,
karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.”
Terima“ kasih Kiai,” kata sang
suami melihat secercah
harapan.
Tapi“ ada syaratnya.” Ucap
Kiai Kholil. Saya“ akan penuhi semua
syaratnya.” Jawab orang itu
dengan sungguh-sungguh.
Lalu Kiai berpesan: “Setelah
ini, kejadian apapun yang
dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada
orang lain, kecuali saya
sudah meninggal. Apakah
sampeyan sanggup?” pesan
dan tanya Kiai seraya
menatap tajam. Sanggup“, Kiai, “ jawabnya
spontan.
Kalau“ begitu ambil dan
pegang anggurmu pejamkan
matamu rapat-rapat,” Kata
Kiai Kholil. Lalu sang suami
melaksanakan perintah Kiai
Kholil dengan patuh.
Setelah beberapa menit
berlalu dibuka matanya
pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah
berada di atas kapal lalu
yang sedang berjalan.
Takjub heran bercampur
jadi satu, seakan tak
mempercayai apa yang dilihatnya. Digosok-gosok
matanya, dicubit lengannya.
Benar kenyataan, bukannya
mimpi, dirinya sedang
berada di atas kapal. Segera
ia temui istrinya di salah satu ruang kapal.
Ini“ anggurnya, dik. Saya beli
anggur jauh sekali” dengan
senyum penuh arti seakan
tidak pernah terjadi apa-apa
dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal. Padahal
sebenarnya dia baru saja
mengalami peristiwa yang
dahsyat sekali yang baru
kali ini dialami selam
hidupnya. Terbayang wajah Kiai Kholil. Dia baru
menyadarinya bahwa
beberapa saat yang alalu,
sebenarnya dia baru saja
berhadapan dengan
seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar
biasa. KH. Muhammad Khalil al-
Maduri, wafat dalam usia
yang lanjut 106 tahun, pada
29 Ramadan 1341 Hijrah/14
Mei 1923 Masihi