IMAM BUKHORI
Di suatu malam, seorang ibu
bermimpi, ia bertemu dengan
seseorang yang berkata, “ Hai
ibu, sesungguhnya Allah telah
mengembalikan penglihatan
kedua mata putramu karena
seringnya engkau berdoa.”
Ternyata, pada pagi harinya, sang
ibu menyaksikan bahwa Allah
telah mengembalikan penglihatan
kedua mata putranya.
Anak tersebut adalah Abu
Abdullah Muhammad ibn
Bardizbah , yang kelak menjadi
seorang perawi hadits terkenal,
Imam Bukhari yang buta saat
masih anak-anak.
Imam Bukhari lahir di Bukhara
pada 13 Syawal 194 H (21 Juli
810 M).
Keunggulan dan kejeniusan Imam
Bukhari sudah tampak sejak
masih kecil. Allah
menganugrahkan kepadanya hati
yang bersih dan otak yang
cerdas, pikiran yang tajam, dan
daya hafalan yang sangat kuat,
khususnya dalam menghafal
hadits.
Ketika berusia 10 tahun, ia sudah
banyak menghafal hadis. Rasyid
ibn Ismail, kakak Imam Bukhari,
menuturkan, pernah Bukhari
muda dan beberapa murid
lainnya mengikuti kuliah dan
ceramah cendikiawan Balkh.
Tidak seperti murid lainnya,
Bukhari tidak pernah membuat
catatan kuliah. Ia pun dicela
karena tidak mencatat. Namun,
suatu hari, Bukhari meminta
teman-temannya membawa
catatan mereka. Tercenganglah
mereka semua, lantaran Bukhari
ternyata hafal di luar kepala
15.000 hadits, lengkap dengan
keterangan yang tidak sempat
mereka catat.
Tahun 210 H, Bukhari berangkat
ke Baitullah untuk menunaikan
haji dan menetap di Mekkah serta
sesekali ke Madinah.
Di kedua tanah suci itulah ia
menulis sebagian karya-
karyanya, dan menyusun dasar-
dasar kitab Al Jami’ AsSahih. Ia
juga menulis Tarikh Kabir-nya di
dekat makam Nabi Muhammad
saw.
Sementara itu ketiga buku
tarikhnya, As Sagir, Al Awsat ,
dan Al Kabir , lahir dari
kemampuannya yang tinggi
mengenai pengetahuan terhadap
tokoh-tokoh dan kepandaiannya
memberikan kritik.
Karya-karyanya itu tidak lepas
dari pengembaraannya ke
banyak negeri: Syam, Mesir,
Baghdad, Kuffah, dan Jazirah
Arab.
Berkat kejeniusannya itu, Imam
Bukhari berhasil merawi hadits
dari 80.000 perawi, dan
menghafalnya rinci dengan
sumbernya.
Imam Muslim bin Al Hajjaj,
pengarang kitab As Sahih Muslim
menceritakan: ” Ketika
Muhammad bin Ismail (Imam
Bukhari) datang ke Naisabur, aku
tidak pernah melihat seorang
kepala daerah, para ulama dan
penduduk Naisabur memberikan
sambutan seperti apa yang
mereka berikan kepadanya.”
Mereka menyambut
kedatangannya dari luar kota
sejauh dua atau tiga marhalah
(100 km), sampai-sampai
Muhammad bin Yahya Az Zihli
berkata,
”Barang siapa hendak
menyambut kedatangan
Muhammad bin Ismail besok pagi,
lakukanlah, sebab aku sendiri
akan ikut menyambutnya.”
Sebagai intelektual yang
berdisiplin tinggi, Imam Bukhari
dikenal sebagai pengarang kitab
yang produktif.
Karya-karyanya tidak hanya
dalam disiplin ilmu hadits, tapi
juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir,
fikih, dan tarikh.
Fatwa-fatwanya selalu menjadi
pegangan umat, sehingga ia
menduduki derajat sebagai
mujtahid mustaqil.
Diantara puluhan kitabnya, yang
paling masyhur ialah kumpulan
hadits shahih yang berjudul Al-
Jami’ash-Shahih , yang
belakangan lebih populer dengan
sebutan Shahih Bukhari.
Ada kisah unik tentang
penyusunan kitab tersebut.
Suatu malam, imam Bukhari
bermimpi bertemu dengan
Rasulullah, seolah-olah Nabi
berdiri di hadapannya. Dalam
penyusunan kitab tersebut, Imam
Bukhari sangat berhati-hati.
Menurut Al-Firbari, salah seorang
muridnya, ia mendengar Imam
Bukhari berkata: ” Saya susun
kitab Al-Jami ’ash Shahih ini di
Masjidil Haram, dan saya tidak
mencantumkan sebuah hadits
pun kecuali sesudah shalat
istikharah dua rakaat memohon
pertolongan kepada Allah, dan
sesudah meyakini betul bahwa
hadits itu benar-benar shahih .”
Setelah itu, ia menulis mukadimah
dan pokok-pokok bahasannya di
Rawdah Al-Jannah, sebuah
tempat antara makam Rasulullah
dan mimbar di Masjid Nabawi.
Barulah setelah itu ia
mengumpulkan sejumlah hadits
dan menempatkannya dalam
bab-bab yang sesuai.
Proses penyusunan kitab itu
dilakukan di kedua kota suci
tersebut dengan cermat dan
tekun selama 16 tahun.
Ia menggunakan kaidah
penelitian secara ilmiah dan
modern sehingga hadits-
haditsnya dapat
dipertanggungjawabkan.
Dengan bersungguh-sungguh
Imam Bukhari meneliti dan
menyelidiki kredibilitas para
perawi sehingga benar-benar
memperoleh kepastian akan
kesahihan hadits yang
diriwayatkan.
Dengan demikian, kitab hadits
susunan Imam Bukhari benar-
benar menjadi batu uji dan
penyaring bagi sejumlah hadits.
” Saya tidak memuat sebuah
hadits pun dalam kitab ini kecuali
hadis-hadis yang shahih,”
katanya suatu ketika.
Suatu ketika, penduduk
Samarkand mengirim surat
kepada Imam Bukhari, meminta
dirinya agar menetap di negeri
itu (Samarkand). Ia pun pergi
memenuhi permohonan mereka.
Ketika perjalanannya di Khartand,
sebuah desa kecil sebelum
Samarkhand, ia singgah dulu
karena terdapat beberapa
familinya di desa tersebut. Di
desa itu Imam Bukhari jatuh sakit
hingga menemui ajalnya.
Ia wafat pada malam Idul Fitri
tahun 256 H (31 Agustus 870 M),
dalam usia 62 tahun kurang13
hari.
Sebelum ia wafat, ia berpesan
bahwa jika meninggal nanti
jenazahnya agar dikafani tiga
helai kain, tanpa baju dalam dan
tidak memakai sorban. Pesan itu
dilaksanakan dengan baik oleh
masyarakat setempat.
*{GAMBAR}
Makam Imam Bukhari di
Samarkand, sekarang dikenal di
Uzbekistan.